OPERASI SATGAS WIBAWA 99 ACEH
( Sebagai reaksi atas penculikan Mayor Mar. Edyanto Abbas - Komandan Satgas Marinir daerah Lhoksumawe )
benarkah TNI melanggar HAM
Kronologi Kejadian Sebelumnya....
2 November 1998
Meletus aksi massa di Lhokseumawe, Aceh Utara, yang dipimpin orang tak
dikenal yang bersenjata. Mereka menyebarkan isu rencana kerusuhan.
Aparat gabungan TNI/Polri membiarkannya dan tidak terjadi bentrokan atau kerusuhan.
Bendera Merah Putih dibakar.
Minggu Ke-2 Desember
Isu ninja menyebar melalui teror telepon.
21 Desember
Beredar isu bahwa seorang anggota komando rayon militer stempat (koramil) merampas mukena
seorang wanita warga Desa Bayu, Lhokseumawe, setelah salat tarawih.
Warga yang marah lalu memblokir jalan dan melakukan operasi KTP dengan
sasaran utama anggota ABRI. Terjadi pembakaran gedung pemerintah dan
mobil Komando Pasukan Khusus.
Selasa, 29 Desember
Dua ratus massa bersenjata parang melakukan aksi sweeping di
Lhoknibong, Aceh Timur. Tujuh prajurit yang tidak bisa menunjukkan KTP
disandera, lalu dibantai massa. Mayat mereka ditemukan dalam keadaan
mengenaskan. Di antaranya adalah Prajurti Satu (Pratu) Mangaliat
Turnip, Prajurit Dua (Prada) Respons Siallagan, Prada Mangasi Sinaga,
Prada Yusuf Tarigan, dan Pratu Tulus Sidabutar.
Rabu, 30 Desember
Mayor (Marinir) Edyanto Abbas dan Serka Syaefuddin diculik di kawasan
jalan pipa PT Mobil Oil. Hingga kini, nasib mereka tak tentu rimbanya.
Dibentuk Operasi Satgas Wibawa '99.
Minggu, 3 Januari 1999
Tentara menyerbu Desa Kandang, Aceh Utara, yang diduga menjadi markas
Ahmad Kandang, pentolan Gerakan Aceh Merdeka dan dalang penculikan
anggota ABRI. Ribuan warga--beberapa menyandang senapan
AK-47--bergerak dari Masjid Desa Pusong ke Kantor Kabupaten
Lhokseumawe. Bentrokan serupa terjadi di beberapa lokasi lain. Akibat
tembakan aparat, 17 orang meninggal dan ratusan lainnya luka-luka.
Sabtu, 9 Januari
Pukul 06.30
Desa Kandang diserbu lagi. Sekitar 1.000 prajurit diterjunkan dalam
sebuah tim gabungan. Tak berhasil menangkap Ahmad Kandang, tentara
lalu menciduk 40 warga. Salah satunya perempuan.
Pukul 10.00
Dua warga yang tertembus pelor lalu dibawa ke Rumah Sakit Umum
Lhokseumawe. Sisanya diangkut dan ditahan di Gedung KNPI
Lhokseumawe, di sebelah markas komando resor militer (makorem).
Tiga orang provos dan lima orang tentara dari korem setempat
menjaganya.
Pukul 10.30
Para tahanan diperiksa oleh tim penyidik dari Kepolisian Resor Aceh
Utara. Secara sembunyi-sembunyi, beberapa orang tentara dari Yonif
121/MK, Korem Lilawangsa, dan Kodim Aceh Utara yang masih berada di
situ melakukan pemukulan terhadap beberapa tahanan. Provos
mencegahnya dan meminta mereka keluar.
Pukul 11.30
Mayor Inf. Bayu Najib, pelaksana tugas harian Komandan Yonif
113/JS, datang. Dengan emosional ia lalu memukuli beberapa tahanan
dengan kabel. Tanpa dikomandoi lagi, anak buahnya ikut beraksi.
Komandan Kodim dan Kepala Polres Aceh Utara buru-buru mencegahnya.
Pemeriksaan dilanjutkan.
Pukul 17.45
Sepuluh tahanan yang akan diproses lebih lanjut dipindahkan ke
Markas Polres Aceh Utara.
Pukul 18.30
Petugas membagikan makanan untuk berbuka puasa.
Pukul 19.45
Tiba-tiba, tanpa bisa dicegah provos, sekitar 50 orang anggota ABRI
yang mengenakan kaus oblong hijau menyerbu masuk. Diidentifikasi,
mereka berasal dari Detasemen (Den) Rudal 001, Batalyon Infanteri
(Yonif) 131/YS, Yonif 111/KB, Den Bekang RFM 011/LW, Makodim
0103/AUT, dan Makorem 011/LW.
29 Desember 1999
Korp Marinir mengungkapkan kesedihan mendalam akibat belum diketahuinya
nasib Mayor (Mar) Edy Suyanto Abbas yang diculik massa perusuh di Paloh
Punti, Aceh Utara, Rabu (29/12) lalu.
Kolonel (Mar) Safzen Noerdin, pejabat dari Mabes Angkatan Laut yang datang ke
Lhokseumawe, Senin (3/1) menyatakan kesedihan korpnya atas penculikan Dan
Satgas Marinir yang sedang melaksanakan tugasnya di Aceh.
"Apa salah kami, kok tega mereka menculiknya. Dia putra Aceh asli yang kini
ada di Korp Marinir. Tapi saudaranya sedarah Aceh tega menculiknya," kata
Kolonel S Noerdin dalam bahasa Aceh.
Kolonel (Mar) S Noerdin yang mendarat dengan Helikopter TNI AL bersama
gubernur Syamsuddin Mahmud di Lhokseumawe, menjawab Serambi, mengaku
pihaknya bersedia bernegosiasi dengan kelompok penculik Mayor Edy.
Mayor Edy, katanya, adalah putra "Tanah rencong" kelahiran Banda Aceh.
Selama ini ia telah banyak membantu masyarakat. Bahkan beberapa hari lalu
baru saja menyerahkan bantuan untuk anak yatim, pembangunan masjid dan
pembangunan rumah janda miskin di Aceh Utara. "Ia tidak pernah ragu
bertugas di sini, karena Aceh adalah darah dagingnya," sebut S Noerdin.
Menurut S Noerdin, orangtua Edy Suyanto bernama Tgk Abbas saat ini berada
di Banda Aceh dan menanyakan nasib anak mereka. "Kami Marinir bukan ingin
membersihkan diri, tapi belum pernah melukai hati rakyat," kata komandan
satuan baret ungu itu. Sehingga sejak DOM dicabut, pasukan Marinir tetap
tinggal di Aceh atas permintaan rakyat Aceh sendiri. "Kalau kami tidak
boleh lagi di sini, hari ini juga kami berangkat," kata perwira yang juga
putra Aceh itu.
Kolonel S Noerdin minta kepada masyarakat yang mengetahui dimana berada
Mayor Edy, supaya diberitahukan. "Kalau memang ia sudah dibunuh supaya
mayatnya diantarkan kepada kami," pintanya.
Mayor Edy Suyanto Abbas, katanya, putra Aceh asli kelahiran Banda Aceh. Ia
bersekolah sejak SD, SLTP, dan SMA Negeri di Banda Aceh, dan masuk taruna
Akabari tahun 83-an yang kemudian karena prestasinya ditarik menjadi
pasukan elite Marinir. "Kami minta diserahkan dikembalikan dia hidup atau
mati," kata perwira TNI AL itu.
Menurut S Noerdin, Mayor Edy Suyanto pada Selasa (29/12) malam kejadian mendatangi
Kantor Koramil Bayu dengan maksud mencari anak buahnya yang ikut disekap
massa. Namun, kemudian perwira itu disandera hingga saat ini belum
diketahui nasibnya.
Tragedi Lhok Nibong
Diduga, Enam Pria Berjaket Hitam Komandoi "Sweeping"
Serambi-Simpang Ulim
Kegiatan sweeping oleh massa di Lhoknibong, Aceh Timur, Selasa (29/12),
diduga dikomandani enam pria berjaket hitam sebatas lutut, kata Komandan
Kodim Aceh Timur Letkol Inf Ilyas kepada Serambi, kemarin.
Ketika massa melakukan sweeping di sana, menurut Dandim, enam pria itu
berdiri di tepi jalan. Setiap kendaraan lewat, pria misterius tersebut,
katanya, memerintah massa memeriksa penumpang. Kalau ditemukan anggota
ABRI, diturunkan dan disandera di lokasi sweeping.
Dandim memperkirakan, satu di antara enam pria misterius itu adalah Ahmad
Kandang. Bahkan, ketika 25 warga ditangkap dan dibawa ke Markas Koramil
Simpang Ulim, orang yang diduga sebagai Ahmad Kandang, katanya, datang dan
berdiri di jalan umum berjarak 50 meter dengan Markas Koramil setempat.
Menurut Dandim, yang kemudian dicurigai sebagai Ahmad Kandang itu diantar
temannya mengendarai Honda GL-Max. Diduga, kedatangan Ahmad Kandang ke sana
untuk membebaskan tahanan di Markas Koramil Simpang Ulim. Tapi karena ABRI
lebih banyak, akhirnya ia menghilang dengan mobil.
Dandim Ilyas didamping Pasi Intelnya Syamsul Bahri mengatakan, terungkapnya
ada "pria berjaket hitam" itu merupakan hasil pengembangan petugas ABRI
selama ini. Baik saksi mata maupun keterangan dari pemuda asal Simpang Ulim
dan Aceh Utara yang tertangkap di lokasi sweeping mengaku melihat enam pria
berjaket memerintah massa. "Tapi ketika aparat keamanan datang ke lokasi
itu, pria tersebut menghilang," kata Dandim.
Sumber lainnya mengatakan, pria berjaket hitam ini memilik senjata laras
panjang dan pendek, tapi warga tidak mengetahui jenis apa senjata yang
bersembunyi di balik jaket pemuda misterius itu. Tidak hanya mengawasi
massa, tapi pria itu ikut memeriksa penumpang yang diturunkan dalam bus
sekaligus menyita identitas korban.
Menurut warga Lhoknibong, sehari sebelumnya Senin (28/12) sejak siang
banyak terlihat pemuda tak dikenal berdomisili di kawasan Lhoknibong,
umumnya mereka memakai kendaraan GL-Max dan GL Pro. Setelah itu mulai pukul
20.30 WIB kedatangan tamu ke daerah itu semakin ramai dan tersebar berita
dari mulut ke mulut akan diadakan dakwah oleh kelompok Gerakan Aceh Merdeka.
Kegiatan sweeping massa baru dilakukan hari Selasa (29/12) sekitar pukul
3.30 WIB dini hari, tujuh anggota ABRI ditangkap. Enam di antaranya
kemudian ditemukan telah menjadi mayat terapung dalam Sungai Arakundoe.
Dalam upaya mencari korban prajurit ABRI yang belum ditemukan mayatnya,
Dandim terus berada di lokasi pencarian. Ratusan personil dari Satuan
Marinir, Yonif 111, dan Yonif 125 terus menyisir berbagai tempat yang
dicurigai. Posko di tepi sungai Arakundoe tetap disiagakan. Pada malam
hari, Posko itu dihidupkan lampu sorot memantau korban dalam sungai itu.
Posko GAM Digerebek, 12 Anggota Kelompok Diciduk
Serambi-Lhokseumawe
Aparat keamanan Senin kemarin kembali menciduk dan menahan 12 warga Pusong,
Kecamatan Banda Sakti, Aceh Utara, menyusul penggerebekan Masjid Pusong
yang disinyalir telah dijadikan pusat pengendalian operasi oleh kelompok
GAM. Danrem 011/Lilawangsa, Kolonel Inf Johnny Wahab menjelaskan tengah
malam tadi, kecuali menangkap anggota kelompoknya, aparat pelaksana Operasi
Wibawa '99 juga menemukan satu bundel dokumen, satu unit mesin ketik,
sejumlah selebaran gelap berbahasa Aceh, plus bendera Aceh Merdeka.
Mereka yang diciduk itu, menurut Danrem, dicurigai sebagai pengikut
kelompok AK dan terlibat dalam rentetan peristiwa perlawanan massa terhadap
ABRI ketika berlangsungnya Operasi Wibawa '99, subuh Minggu (3/1).
Penggeledahan masjid Pusong kemarin, jelas Danrem, dilancarkan sekitar
pukul 14:00 WIB. "Penggerebekan kita lakukan karena tempat ibadah itu telah
dijadikan semacam pusat pengendalian operasi oleh kelompok tersebut,"
katanya.
Danrem menduga, mereka memilih masjid sebagai markas pergerakannya karena
di rumah ibadah itu tersedia fasilitas lengkap, termasuk pesawat telepon.
Dengan ditangkapnya 12 anggota kelompok GAM kemarin, hingga berita ini
dilaporkan pukul 23.15 WIB tadi malam tercatat sudah 170 orang ditahan.
Sehari sebelumnya, pihak keamanan mengamankan 158 orang. Sejauh itu, sampai
kemarin ditegaskan Danrem tidak ada yang dilepas. "Semua mereka masih
menjalani pemeriksaan oleh pihak kepolisian," sebut Kolonel Johnny Wahab.
Seperti diberitakan sehari sebelumnya, dalam menjalankan operasi pencarian
anggota Marinir yang diduga diculik kelompok GAM, aparat terpaksa menahan
158 warga setelah beberapa jam terlibat kontak senjata. Perlawananan massa
terhadap missi ABRI itu juga merembes pada pembakaran tiga polsek dan
sejumlah gedung kantor pemerintahan lainnya di beberapa kecamatan sebelah
timur Kota Lhokseumawe.
Menurut pantauan Serambi, Kehidupan Kota Lhokseumawe sendiri Senin malam
tadi berlangsung normal. Jalan Merdeka yang merupakan ruas masuk ke kota
yang sejak pukul 14:00 WIB ditutup menyusul penggeledahan Desa Pusong,
selepas buka puasa dibuka kembali. Sehingga mobilitas masyarakat
berlangsung stabil. Namun, masyarakat tetap ekstra hati-hati. Itu terlihat
dari tingkat mobilitas kendaraan bermotor yang berangsur sepi terhitung
pukul 22.00 WIB.
Masjid-masjid di Kota Lhokseumawe dan lainnya di wilayah Kecamatan Banda
Sakti juga tetap melangsungkan shalat tarawih kendati jumlah jamaah jauh
berkurang dibandingkan malam-malam sebelum meletusnya peristiwa subuh
Minggu itu. Bahkan, di Masjid Raya Baiturrahman Lhokseumawe, tadi malam
dilangsungkan peringatan Nuzulul Quran.
Kota Disepikan, Pusong Digeladah
Kapolda: Dalangnya Segera Diciduk
Serambi-Lhokseumawe
Keamanan dalam Kota Lhokseumawe, kemarin, dalam keadaan terkendali. Pada
beberapa tempat terlihat petugas berjaga-jaga mencegah berbagai
kemungkinan. Suasana agak tegang berlangsung sekitar pukul 14.00 WIB,
ketika secara mendadak aparat keamanan memerintahkan warga mengosongkan
kota. Semua jalan masuk ke pusat kota dihalangi dengan perintang dan dijaga
ketat oleh petugas.
Suasana di luar kota, terutama pada lokasi-lokasi yang sempat menjadi
sasaran kerusuhan pada Minggu (3/1), kemarin relatif normal. Jalan raya
Banda Aceh-Medan yang sehari sebelumnya tertutup total untuk kendaraan
umum, mulai dari depan Pos Polantas Cunda, Lhokseumawe hingga kawasan
Lhoksukon (bukan Matangkuli-red), sejak kemarin pagi telah dapat dilintasi
kendaraan roda empat.
Rintangan-rintangan dari beton tiang listrik yang dibentangkan selebar
badan jalan, kemarin telah digeser sedikit, sehingga sudah dapat dilintasi
kendaraan roda empat, kendati dengan cara berjalan zig-zag. Aral rintang
itu masih terlihat di badan jalan antara Cunda hingga kawasan Punteuet
(sekitar 10 km).
Terhadap informasi bahwa pada hari Minggu, hubungan lalulintas Banda Aceh -
Medan terganggu akibat perintang tiang listrik dari beton yang dilakukan
warga sekitar Kandang dan Matangkuli, polisi mengalihkan angkutan angkutan
bus umum melalui jalan Mobil Oil (Serambi, 4/1), Camat Matangkuli, Usman
Ishak, via telepon kepada Serambi, kemarin mengaku tidak ada warganya yang
meletakkan perintang di jalan umum di sana.
Sejumlah awak angkutan umum antar propinsi di Lhokseumawe, kemarin, mengaku
bus-bus ukuran besar belum dapat melintasi rute jalan umum
Lhokseumawe-Lhoksukon. Mereka masih melintasi lewat jalan pipa gas Mobil
Oil. Demikian juga dengan kendaraan truk ukuran besar.
Lengang
Akan tetapi, Kota Lhokseumawe yang sejak Senin pagi normal, pada petang
hari mendadak tegang. Suasana dalam sekejap menjadi lengang. Sebab, pada
pukul 14.00 WIB, petugas keamanan memasuki pusat kota dan mengintruksikan
warga untuk menghentikan seluruh aktivitas perdagangan.
Terlihat beberapa ruas jalan dalam kota sepi, kecuali sejumlah kendaraan
yang melintas. Itu pun segera dihalau petugas yang terdiri dari satuan
Brimob dan Yonif yang bersenjata lengkap. Informasi yang diperoleh Serambi
menyebutkan, langkah itu dilakukan petugas keamanan untuk melancarkan usaha
menggeledah kawasan Pusong bagi mencari orang-orang yang dicurigai.
Kapolda Aceh Kolonel Pol Drs Djuharnus Wiradinata yang ditanyai ketika
menghadiri pertemuan dengan pejabat dan ulama se-Aceh Utara, kemarin,
berjanji dalam waktu dekat dalang perusuh segera ditangkap. "Dalam waktu
singkat tokoh kejahatan ini dapat ditangkap," tandasnya.
Menurutnya, situasi kerusuhan dan kekacauan yang dilakukan sekelompok
warga, tidak lebih dari keinginan untuk selalu melakukan kejahatan. Hal itu
diamati dari cara melakukan provokasi dan melakukan pengancaman terhadap
warga masyarakat yang tidak tahu apa-apa.
Ironisnya, kata Kapolda, kelompok itu menjadikan wanita dan anak- anak
sebagai tameng sehingga menimbulkan korban sia-sia. "Tokoh kejahatan itu
tidak bisa dibiarkan," tegas Kolonel Djuharnus Wiradinata.
Sementara itu, menurut pengakuan beberapa warga Lhokseumawe, pengosongan
kota dengan memblokir jalan Perdagangan Ujung kawasan terminal bus kecil -
penghubung dengan kawasan reklamasi Pusong, jalan menuju Mon Geudong, Jalan
Merdeka Simpang Empat Pos Lantas menuju jalan Samudera, dan Simpang Jalan
Pasar Inpres, dilakukan setelah terjadi insiden kecil antara masyarakat
dengan petugas. Namun warga tidak mengetahui persis insiden tersebut.
Menurut pengakuan seorang warga, oknum militer yang melakukan pengawasan
kota telah bertindak kasar terhadap sejumlah pedagang di pasar Lhokseumawe.
Hal itu menimbulkan kemarahan warga. "Kami ditendang dan dipukul. Mestinya
ABRI itu melindungi kami," kata Agam kepada Gubernur Syamsuddin Mahmud di
Meuligoe Bupati Aceh Utara, kemarin.
Mendapat pengaduan tersebut, Gubernur Syamsuddin Mahmud yang dicegat Agam
itu seusai bermusyawarah dengan sejumlah tokoh ulama di Aceh Utara, Senin
(3/1) petang mengatakan, "Kita minta pihak komandan satuan supaya
mengendalikan anggotanya agar tidak bertindak berlebihan."
Pusong
Selama pasukan ABRI memblokir tepi pantai, ribuan warga Desa Pusong Baru
dan Pusong Lama otomatis tidak bisa mencari nafkah. "Yang jelas Pusong
mencekam sampai Senin sore," kata Kepala Desa Pusong Baru, M Yunus Yacob,
yang dihubungi Serambi, kemarin petang.
Menurut Kades, ratusan keluarga miskin yang kerjanya mocok-mocok, sebagai
tukang sepatu, tukang bengkel, dan buruh bangunan tidak bisa melakukan
aktivitas. Selebihnya, sebagian besar kaum pria lain yang bekerja sebagai
nelayan sejak Minggu sampai Senin (4/1) belum bisa kerja sehingga ada warga
kehabisan stok beras.
Beberapa warga kemarin mengaku amat ketakutan, karena Minggu (3/1) mulai
pukul 08.30 WIB aparat keamanan memblokir desa pantai yang dihiasi dengan
ratusan rumah kumuh itu. Bukan sekadar memblokir, tapi terdengarnya
rentetan letusan senjata api membuat warga sangat ketakutan. Jerit tangis
ibu rumah tangga dan anak-anak akrab terdengar.
Kemarin semua aktivitas warga setempat lumpuh. Pihak keamanan menggeledah
rumah-rumah penduduk. "Saya tidak setuju kalau warga Pusong disebut sebagai
Aceh Merdeka. Kalaupun ada itu berarti pendatang yang bersembunyi di
rumah-rumah. Jadi, jangan semua orang Pusong dianggap terlibat. Itu tuduhan
yang sangat berlebihan," kata seorang warga Pusong.
Penduduk Pusong Lama dan Pusong Baru mencapai 4000 jiwa. Seorang gadis
warga setempat bernama Asma (19) ikut menjadi korban operasi penegakan
hukum oleh pihak keamanan. Gadis yang aktif di grup drum band itu tewas
diterjang peluru bersama empat warga lainnya. Selain lima warga Pusong yang
tewas, ada belasan orang lainnya yang harus menjalani operasi dan perawatan
intensif di rumah sakit akibat terkena tembakan.
5 Janurai 1999
Lhokseumawe Diblokir, Posko GAM Digerebek
12 Anggota Kelompok Diciduk - Lhokseumawe
Aparat keamanan di Lhokseumawe Senin siang menggerebek apa yang disebut
sebagai Posko GAM di kawasan Desa Pusong, menyusul upaya pemblokiran
beberapa kawasan strategis di kota itu. Sejumlah 12 orang yang disebut
anggota kelompok GAM diciduk bersama dengan sejumlah dokumen.
Penggerebakan
dilakukan di masjid Desa Pusong yang dijadikan markas kelompok tersebut.
Bersamaan itu aparat menggeledah rumah-rumah penduduk di kasawan Desa
Pusong, aktivitas kota dihentikan, seluruh warga dilarang ke luar rumah.
Namun suasana malam ramadhan tetap berlangsung. Shalat jamaah tarawih di
masjid-masjid dan mushalla berjalan normal. Bahkan di Masjid Raya
Baiturrahim tadi malam berlangsung upacara peringatan Nuzul Quran yang
dihadiri banyak jamaah.
Danrem, 011/Lilawangsa Kolonel Inf Johnny Wahab menjelaskan tadi malam,
penggerebekan Masjid Pusong karena adanya informasi yang mensinyalir rumah
ibadat itu telah dijadikan pusat pengendalian operasi oleh kelompok GAM.
Selain berhasil menangkap 12 anggota kelompoknya, aparat pelaksana Operasi
Wibawa '99 juga menemukan satu bundel dokumen, satu unit mesin ketik,
sejumlah selebaran gelap berbahasa Aceh, dan bendera Aceh Merdeka.
Mereka yang diciduk, menurut Danrem, menjadi tersangka pengikut kelompok
GAM dan diduga terlibat dalam rentetan peristiwa perlawanan massa terhadap
ABRI ketika berlangsungnya Operasi Wibawa '99, subuh Minggu (3/1).
Penggeledahan masjid Pusong kemarin, jelas Danrem, dilancarkan sekitar
pukul 14:00 WIB. "Penggerebekan kita lakukan karena tempat ibadah itu telah
dijadikan semacam pusat pengendalian operasi oleh kelompok tersebut,"
katanya. Danrem menduga, mereka memilih masjid sebagai markas pergerakannya
karena di rumah ibadah itu tersedia fasilitas lengkap, termasuk pesawat
telepon.
Dengan ditangkapnya 12 anggota kelompok GAM kemarin, hingga berita ini
dilaporkan pukul 23.15 WIB tadi malam tercatat sudah 170 orang ditahan.
Sehari sebelumnya, pihak keamanan mengamankan 158 orang. Sejauh itu, kata
Danrem, sampai kemarin belum ada tersangka yang dilepas. "Semua mereka
masih menjalani pemeriksaan oleh pihak kepolisian," sebut Kolonel Johnny
Wahab.
Berangsur normal
Menurut pantauan Serambi, Kehidupan Kota Lhokseumawe sendiri Senin malam
tadi berlangsung normal. Jalan Merdeka yang merupakan ruas masuk ke kota
yang sejak pukul 14:00 WIB ditutup menyusul penggeledahan Desa Pusong,
selepas buka puasa dibuka kembali. Sehingga mobilitas masyarakat
berlangsung stabil. Namun, masyarakat tetap ekstra hati-hati. Itu terlihat
dari tingkat mobilitas kendaraan bermotor yang berangsur sepi terhitung
pukul 22.00 WIB.
Masjid-masjid di Kota Lhokseumawe dan lainnya di wilayah Kecamatan Banda
Sakti juga tetap melangsungkan shalat tarawih kendati jumlah jamaah jauh
berkurang dibandingkan malam-malam sebelum meletusnya peristiwa subuh
Minggu itu. Bahkan, di Masjid Raya Baiturrahman Lhokseumawe, tadi malam
dilangsungkan peringatan Nuzulul Quran.
Suasana mencekam hanya dirasakan sekitar pukul 14.00 WIB siang, ketika
secara mendadak aparat keamanan memblokir seluruh kota. Aktivitas kota
terhenti ketika aparat memerintahkan warga mengosongkan kota. Semua jalan
masuk ke pusat kota dihalangi dengan barikade dan dijaga ketat oleh petugas.
Akibatnya beberapa ruas jalan dalam kota sepi, kecuali sejumlah kendaraan
yang melintas. Itu pun segera dihalau petugas yang terdiri dari satuan
Brimob dan Yonif yang bersenjata lengkap. Informasi yang diperoleh Serambi
menyebutkan, langkah itu dilakukan petugas keamanan untuk melancarkan usaha
menggeledah kawasan Pusong bagi mencari orang-orang yang dicurigai.
Kapolda Aceh Kolonel Pol Drs Djuharnus Wiradinata yang ditanyai ketika
menghadiri pertemuan dengan pejabat dan ulama se-Aceh Utara, kemarin,
mengatakan aparat keamanan masih mencari dalang penggerak kerusuhan massa.
Dalam waktu dekat dalang perusuh segera ditangkap. Kata Kapolda, provokasi
yang menggerakkan massa hari Minggu merupakan keinginan dari orang tertentu
untuk selalu melakukan kejahatan. Hal itu, tandas Kapolda, diamati dari
cara pihak yang melakukan provokasi." Mereka mengancam warga masyarakat
agar bergerombol menjadi himpunan massa, padahal warga tersebut tidak tahu
apa-apa," kata Kolonel Pol Djuharnus.
Ironisnya, kata Kapolda, kelompok itu menjadikan wanita dan anak- anak
sebagai tameng sehingga menimbulkan korban sia-sia. "Tokoh kejahatan itu
tidak bisa dibiarkan," katanya dengan nada tegas.
Sementara itu suasana di luar kota, terutama pada lokasi-lokasi yang sempat
menjadi sasaran kerusuhan pada Minggu (3/1), kemarin relatif normal. Jalan
raya Banda Aceh-Medan yang sehari sebelumnya tertutup total untuk kendaraan
umum, mulai dari depan Pos Polantas Cunda, Lhokseumawe hingga kawasan
Lhoksukon (bukan Matangkuli-red), sejak kemarin pagi telah dapat dilintasi
kendaraan roda empat.
Rintangan-rintangan dari beton tiang listrik yang dibentangkan selebar
badan jalan, kemarin telah digeser sedikit, sehingga sudah dapat dilintasi
kendaraan roda empat, kendati dengan cara berjalan zig-zag. Aral rintang
itu masih terlihat di badan jalan antara Cunda hingga kawasan Punteuet
(sekitar 10 km).
Tentang informasi kemacatan hubungan lalulintas Banda Aceh - Medan akibat
perintang tiang listrik dari beton di sekitar Kandang dan Matangkuli, di
bantah oleh Camat Matangkuli Usman Ishak. Melalui saluran telepon Camat
Usman kemarin mengatakan kepada Serambi, tidak ada warganya yang meletakkan
perintang di jalan umum di sana.
Tapi sejumlah awak angkutan umum antar propinsi di Lhokseumawe, kemarin,
mengaku bus-bus ukuran besar belum dapat melintasi rute jalan umum
Lhokseumawe-Lhoksukon. Mereka masih melintasi lewat jalan pipa gas Mobil
Oil. Demikian juga dengan kendaraan truk ukuran besar.
Keluhan
Dipihak lain, perintah pengosongan kota kemarin menimbulkan berbagai
keluhan masyarakat. Menurut pengakuan beberapa warga Lhokseumawe,
pengosongan kota dilakukan dengan memblokir jalan Perdagangan Ujung kawasan
terminal bus kecil - penghubung dengan kawasan reklamasi Pusong, jalan
menuju Mon Geudong, Jalan Merdeka Simpang Empat Pos Lantas menuju jalan
Samudera, dan Simpang Jalan Pasar Inpres. Pemblokiran itu dilakukan setelah
terjadi insiden kecil antara masyarakat dengan petugas. Namun warga tidak
mengetahui persis insiden tersebut.
Menurut pengakuan seorang warga, oknum militer yang melakukan pengawasan
kota telah bertindak kasar terhadap sejumlah pedagang di pasar Lhokseumawe.
Hal itu menimbulkan kemarahan warga. "Kami ditendang dan dipukul. Mestinya
ABRI itu melindungi kami," kata Agam kepada Gubernur Syamsuddin Mahmud di
Meuligoe Bupati Aceh Utara, kemarin.
Mendapat pengaduan tersebut, Gubernur Syamsuddin Mahmud yang dicegat Agam
seusai bermusyawarah dengan sejumlah tokoh ulama di Aceh Utara, Senin (3/1)
petang mengatakan, "Kita minta pihak komandan satuan supaya mengendalikan
anggotanya agar tidak bertindak berlebihan."
Selama pasukan ABRI memblokir tepi pantai, ribuan warga Desa Pusong Baru
dan Pusong Lama otomatis tidak bisa mencari nafkah. "Yang jelas Pusong
mencekam sampai Senin sore," kata Kepala Desa Pusong Baru, M Yunus Yacob,
yang dihubungi Serambi, kemarin petang.
Menurut Kades, ratusan keluarga miskin yang kerjanya mocok-mocok, sebagai
tukang sepatu, tukang bengkel, dan buruh bangunan tidak bisa melakukan
aktivitas. Selebihnya, sebagian besar kaum pria lain yang bekerja sebagai
nelayan sejak Minggu sampai Senin (4/1) belum bisa kerja sehingga ada warga
kehabisan stok beras.
Beberapa warga kemarin mengaku amat ketakutan, karena Minggu (3/1) mulai
pukul 08.30 WIB aparat keamanan memblokir desa pantai yang terdiri dari
ratusan rumah kumuh itu. Warga setempat menyatakan amat ketakutan, bukan
hanya soal memblokir. Akan tetapi terdengarnya rentetan letusan senjata api
membuat warga sangat ketakutan. Jerit tangis ibu rumah tangga dan anak-anak
akrab terdengar.
Kemarin semua aktivitas warga setempat lumpuh. Pihak keamanan menggeledah
rumah-rumah penduduk. "Saya tidak setuju kalau warga Pusong disebut perusuh
atau terlibat gerakan tertentu. Kalaupun ada itu berarti pendatang yang
bersembunyi di rumah-rumah. Jadi, jangan semua orang Pusong dianggap
terlibat. Itu tuduhan yang sangat berlebihan," kata seorang warga Pusong.
Penduduk Pusong Lama dan Pusong Baru mencapai 4000 jiwa. Seorang gadis
warga setempat bernama Asma (19) ikut menjadi korban operasi penegakan
hukum oleh pihak keamanan. Gadis yang aktif di grup drum band itu tewas
diterjang peluru bersama empat warga lainnya. Selain lima warga Pusong yang
tewas, ada belasan orang lainnya yang harus menjalani operasi dan perawatan
intensif di rumah sakit akibat terkena tembakan.
Normal
Sementara itu lalu lintas angkutan umum Banda Aceh-Medan diperkirakan
segera berjalan normal. Sejumlah pengusaha angkutan mengatakan tetap
mengoperasikan armadanya. Hal itu untuk melayani masyarakat yang ingin
berangkat ke Aceh Utara dan Timur meski hingga kemarin pihak militer belum
menghentikan Operasi Wibawa 99.
Pantauan Serambi di stasion bus CV Kurnia, PT Anugerah dan Pusaka, misalnya
pagi kemarin mulai "dibanjiri" calon penumpang yang akan mudik lebaran ke
Aceh Utara dan Aceh Timur. Padahal sehari sebelumnya banyak calon penumpang
yang sudah memesan tiket terpaksa menunda keberangkatannya ke Medan.
Mengenai adanya calon penumpang yang membatalkan keberangkatannya,
pengusaha jasa angkutan umum jurusan Banda Aceh - Medan kepada Serambi
mengatakan jumlah masyarakat yang menunda keberangkatan sangat sedikit
dibandingkan dengan calon penumpang yang memesan tiket. "Penundaan itu
wajar-wajar saja. Tapi, kita tetap mengoperasikan armada sesuai jadwal
meski kondisi keamanan di Aceh Utara belum begitu pulih," kata Azhari,
petugas loket di stasion CV Kurnia.
Sementara Yusmiati, petugas loket di stasion CV Atra kepada Serambi
mengatakan, gangguan keamanan di lintasan Aceh Utara tidak banyak
mempengaruhi masyarakat yang ingin mudik lebaran. Penumpang yang memesan
tiket masih tetap ramai. Kecuali bagi mereka yang akan berangkat dalam
minggu ini. "Kita doakan kondisi keamanan di Aceh Utara segera pulih,"
harapnya.
Mayor Edi Dibunuh
Tewas Bersama Serka Syarifuddin
Ditanam Satu Liang
Lhokseumawe
Nasib Mayor Marinir Edianto (Komandan Satgas Marinir Lhokseumawe) yang
diculik dekat Lhokseumawe, 29 Desember 1998, kemarin (22/3) pagi
terungkap. Perwira muda itu ditemukan tewas dibunuh bersama Serka
Syarifuddin (anggota Kodim 0103/Aceh Utara). Mayat keduanya yang masih
berseragam loreng ABRI ditanam berhimpitan satu liang dalam kebun
kelapa kawasan Desa Cot Trieng Kecamatan Muara Dua, 22 Km barat
Lhokseumawe.
Kedua prajurit ABRI yang diculik setelah "Kasus Sweeping Lhoknibong"
itu diperkirakan sudah dibunuh dan ditanam pada akhir Desember 1998.
Saat liang mayat itu dibongkar kemarin, kedua jenazah didapati
berhimpitan. Kedua jenazah masih berseragam loreng ABRI lengkap dengan
atribut kesatuan masing-masing.
Setelah diangkat dari liang, kedua mayat prajurit ABRI itu dibawa ke
ruang jenazah Rumkit Korem 011/LW Lhokseumawe. Tim dokter setempat
membersihkan lumpur yang membalut kedua jenazah itu. Kemudiannya,
kedua jenazah dimandikan secara Islam.
Menurut rencana, mayat Mayor Marinir Edianto akan dimakamkan di
Surabaya. Sedangkan mayat Serka Syarifuddin dimakamkan di pekuburan
keluarga di Banda Aceh.
Penemuan mayat kedua prajurit yang tewas dibunuh itu, segera
menyemburkan suasana berkabung di kalangan keluarga besar ABRI.
Beberapa anggota Marinir di RS Korem kemarin tampak tak bisa menahan
tangis atas kepergian sang komandan, Mayor Marinir Edianto.
Dokter yang menangani kedua jenazah itu menemukan luka besar pada
leher Mayor Edi yang diperkirakan akibat tebasan parang atau pedang.
Luka-luka akibat bacokan juga terlihat pada sekujur jasad Serka
Syarifuddin.
Pengakuan Sulaiman
Komandan Korem 011/LW Kolonel Inf Johnny Wahab yang dikonfirmasi
Serambi di kantornya mengatakan, informasi mengenai lokasi lubang
penanaman kedua mayat itu diperoleh dari Sulaiman (40) lelaki yang
ditembak dan ditangkap aparat karena membawa senjata M-16 Pada Minggu
(21/3) malam (baca Serambi, 22/3).
Mendapat ketarangan itu, kemarin pagi sekitar satu kompi aparat
keamanan gabungan terdiri anggota Satgas Marinir, Gegana, Kodim 0103
AU, dan pasukan Korem 011/LW mencari lokasi tersebut yang terletak
dalam sebuah kebun di Desa Cot Trieng Kecamatan Muara Dua Lhokseumawe.
Pencarian dilakukan mulai pukul 09.15 WIB dan tepat pukul 13.00 WIB
lokasi yang dicari ketemu sekitar enam kilometer dari lokasi Mayor
Edianto diculik.
Dalam penggalian pada kedalaman 30 centimeter ditemukan sosok tubuh
telungkup yang ternyata mayat Serka Syarifuddin. Setelah mayat pertama
terangkat, di bawahnya terlihat satu lagi yang ternyata mayat Mayor
Marinir Edianto.
Saat penggalian dilakukan lokasi yang hanya puluhan meter dari jalan
Desa Cot Trieng itu juga dilalui sejumlah warga desa yang pulang dan
pergi ke rumahnya. Namun mereka hanya melihat dari jauh penggalian
yang sedang dilakukan aparat keamanan. Juga warga menyaksikan ketika
kedua temuan jenazah itu diangkut ke rumah sakit di Lhokseumawe.
Dengan ditemukannya kedua jenazah berakhirlah berbagai spekulasi yang
muncul dalam masyarakat tentang peristiwa penculikan Mayor Marinir
Edianto dan Serka Syarifuddin (Babinsa Kecamatan Muara Dua) yang
terjadi 29 Desember 1998.
Sebelumnya beredar cerita bahwa penculikan itu hanya semacam sandiwara
hasil rekayasa pihak tertentu. Sehingga sering ada isu muncul
mengatakan bahwa Mayor Edianto masih hidup dan berada di sebuah
tempat. Juga isu bahwa Edianto mengirim surat kepada istrinya.
Penantian panjang keluarga Tengku Abbas dan Rantani, Senin kemarin
berakhir sudah setelah menerima kabar bahwa anaknya, Mayor (Mar)
Edyanto yang diculuk tiga bulan lalu, ditemukan telah jadi mayat.
Walau sekian lama menanti, kedua orang tua dan keluarga almarhum
Edyanto tetap tak dapat melihat keadaan jenazah tersebut. Menurut
kabar yang diterima pihak keluarga dari Komandan Marinir di Rancong
Lhokseumawe, jenazah almarhum Edyanto, Selasa (23/3) siang, akan
diterbangkan ke Surabaya untuk dikebumikan di sana.
Tengku Abbas dan Rantani yang ditemui Serambi di rumahnya, Jalan Utama
Nomor 16 Kelurahan Peuniti, Banda Aceh sore kemarin mengatakan, ia
sangat yakin bahwa jenazah yang ditemukan itu adalah anaknya. "Saya
yakin karena di jari kanan mayat Edy masih melekat cincin pemberian
ayahnya," ungkap Rantani.
Baik Rantani maupun Tengku Abbas mengaku baru mengetahui penemuan
jenazah anaknya, Senin pukul 15.00 WIB. Mereka menerima kabar itu dari
Komandan Marinir yang bertugas di Rancong, Aceh Utara. Saat telepon
pertama yang mengabarkan penemuan mayat tersebut, Rantani mengaku
sangat kaget dan langsung lemas.
Begitupun, Rantani dan suaminya Tengku Abbas masih dapat menguasai
perasaannya, apalagi sejak kejadian penculikan tiga bulan lalu, ia
sudah bayangkan apa yang bakal dialami anaknya itu. Akhirnya, perasaan
yang sudah lama dipendam , kemarin menjadi kenyataan setelah aparat
keamanan di Aceh Utara berhasil menemukan mayat Edy di dalam sebuah
lubang.
Rantani yang didampingi Fitri Hartarti Ningsih, anak sulungnya itu
mengaku sudah belasan kali menerima telepon dari Lhokseumawe sejak
penemuan mayat itu. Telepon yang selalu berdering, lebih banyak
mengabarkan tentang rencana Mabes Marinir tentang pemakaman anaknya
itu.
Terakhir, ia mendapat kabar bahwa jenazah Edy harus dikebumikan di
Taman Makam Pahlawan Surabaya. Kabar yang sangat menyesakkan perasaan
Rantani itu, menurut si penelopon dari Markas Marinir di Rancong, Aceh
Utara disebutkan, kesimpulan pemakaman Edy di Surabaya atas keputusan
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL).
Karena keputusan itu tak dapat ditawar-tawar lagi, Rantani balik
menanyakan apakah anggota keluarga mereka diikutkan. Dari jawaban yang
diperoleh, pihak Mabes Marinir menginzinkan tiga orang anggota
keluarga mendampingi jenazah Edy ke Surabaya.
Ketiga orang yang dipastikan ikut bersama jenazah Edy ke Surabaya,
selain kedua orang tua Edy, juga adik kandung Edyanto yaitu Ir
Nazaruddin. Mereka bertiga akan berangkat, Senin (22/3) malam ke
Lhokseumawe. Sesampainya di Lhokseumawe, pagi Selasa harus melaporkan
diri ke Korem 011/Lilawangsa.
Menurut Rantani, jenazah anaknya itu akan diberangkat ke Surabaya
siang hari ini dengan pesawat khusus. Pesawat jemputan itu, ditunggu
kedatangannya di Bandara Malikulsaleh Lhokseumawe dari Tanjung Pinang.
Setelah semua disiapkan, pesawat akan terbang ke Medan sebelum
melanjutkan perjalanannya ke Surabaya, urai Rantani seperti hasil
pembicaraannya lewat telepon.
Sejumlah pelayat yang memenuhi rumah duka sore kemarin, tampak larut
dalam suasana sedih. Mereka bertambah sedih lagi manakala melihat
Rantani kembali menangis begitu menerima telepon dari Lhokseumawe.
Sebelumnya, istri Edyanto, dr Fautia yang kini bertugas di Rumah Sakit
Angkatan Laut Surabaya, sudah berkali-kali menelepon mertuanya itu ke
Banda Aceh.
Pasangan almarhum Mayor (Mar) Edyanto dengan dr Fauti ini, memang
belum dikaruniai anak. Edyanto yang kelahiran Banda Aceh 36 tahun
silam, merupakan lulusan AKABRI tahun 1986. Ia merupakan alumnus SDN
22, SMPN 3, dan SMAN 2 yang semuanya di Banda Aceh. Edyanto merupakan
anak ke tiga dari enam bersaudara.
Anak pertama pasangan Tengku Abbas dan Rantani adalah Ir Iriani yang
kini berdomesili di Langsa, Ir Irwanto yang kini di Surabaya, dan yang
ketiga adalah almarhum Kolonel (Mar) Edyanto, lalu Ir Nazaruddin
(bertugas di Banda Aceh), Drs Tuti Martiani (berdomesili di Langsa)
serta yang terakhir Fitri Hartarti Ningsih MD yang kini bersama kedua
orang tuanya.
Pengakuan Sulaiman kepada Aparat:
Mayor Edi Dihabisi Enam Pria
Lhokseumawe
"Drama" penculikan dan pembunuhan Mayor (Mar) Edianto beserta Serka
Syarifuddin tersingkap habis. Dansatgas Marinir Lhokseumawe dan
anggota Babinsa Koramil Muara Dua, Aceh Utara, yang jasadnya baru
ditemukan, Senin (22/3) itu diculik dan dihabisi enam lelaki. Kedua
korban dibunuh di bibir liang tempat mayatnya ditemukan di sebuah
kebun kelapa kawasan Desa Cot Trieng, sekitar 10 Km dari pusat Kota
Lhokseumawe, hanya beberapa jam setelah disandera pada 29 Desember
1998 lalu.
Babak demi babak kisah pembunuhan dua anggota ABRI itu terungkap
kemarin melalui pengakuan Sulaiman (40), lelaki bersenjata M-16 yang
disergap dan ditembak Tim Gabungan Gegana Brimob Polri dan Satgas
Marinir di SPBU Simpang Leubu, Kecamatan Gandapura, Senin (22/3)
malam, sekitar pukul 21.00 WIB.
Ia me-replay semua aksi itu ketika diinterogasi tim pemeriksa gabungan
dari Satgas Marinir, Intel Korem 011/Lilawangsa, dan Gegana Polri,
pukul 09.00 WIB kemarin, di tempat perawatannya RS Kesrem Lhokseumawe.
Kepada tim pemeriksa yang dipimpin seorang perwira menengah marinir
itu, Sulaiman menyebut nama lima rekannya yang menculik serta membunuh
Mayor Edi dan Serka Syarifuddin.
Sulaiman belum mau melayani Serambi yang berusaha mewawancarinya
kemarin di tempat perawatan. Namun, kepada tim aparat keamanan, lelaki
yang ditangkap dan ditembak dua hari lalu itu menyebutkan, sehabis
diculik dekat Lhokseumawe 29 Desember dinihari, Mayor Edi dan Serka
Syarifuddin dengan menggunakan mobil dumptruk dibawa ke suatu tempat.
Dari tempat itu, kedua korban dengan tangan terikat - - Mayor Edi
tangan diikat ke bawah kaki dan Syarifuddin tangan ke belakang --
selanjutnya dibawa ke kebun kelapa di kawasan Cot Trieng, Kecamatan
Muara Dua, (dekat komplek perumahan PT Arun NGL Co).
Di kebun ini, sekitar pukul 03.00 dinihari kedua korban dihabisi
menggunakan senjata tajam. Korban pertama adalah Mayor Edianto yang
disusul Serka Syarifuddin.
Pengakuan Sulaiman itu cocok dengan temuan lapangan. Saat lubang
tempat kedua korban dikubur digali Tim Gabungan ABRI pukul 14.00 WIB
hari Senin, jenazah Mayor Edi berada paling bawah yang ditindih dengan
jenazah Serka Syarifuddin. Jasad Syarifuddin ditemukan hanya 20 Cm
dari permukaan tanah. Kedalaman liang itu sendiri hanya satu meter.
Amunisi
Sementara itu, senjata M-16 beserta 148 amunisi yang disita dari
tangan Sulaiman pada saat penyergapan, kemarin diserahkan pihak Korem
011/Lilawangsa kepada Polres Aceh Utara untuk pengusutan lebih lanjut.
Menurut Kapolres setempat, Letkol Pol Drs Iskandar Hasan, melalui
saluran telepon selular dari Lembang, Bandung, kepada Serambi,
kemarin, senjata yang larasnya telah diganti kayu itu akan dikirim ke
Laboratorium Kriminal (Labkrim) untuk uji balistik.
Pemeriksaan itu dimaksud untuk mengetahui secara ilmiah kemungkinan
keterlibatan Sulaiman dalam serangkaian aksi penembakan misterius yang
terjadi di Aceh Utara sejak pengujung Oktober 1998 lalu.
Sebab, jelas Kapolres, dari 23 kasus petrus yang terjadi selama ini,
enam kasus di antaranya di TKP ditemukan selongsong peluru M- 16
sejenis dengan yang dikuasai Sulaiman. "Untuk penegakan hukum, kita
akan buktikan apakah selongsong itu benar dilepaskan dari senjata M-16
yang dipegang Sulaiman atau bukan. Semua itu akan terbukti dari
gesekan peluru yang akan diperiksa di Labkrim nantinya," ungkap
kapolres yang penjelasan rincinya disampaikan Kasatserse, Kapten Pol
Dwi Tjahyono, di Lhokseumawe.
Sebagai institusi pengayom hukum, menurut kapolres, kepolisian tidak
akan menangkap dan menembak orang sembarangan. "Bicara hukum adalah
bicara bukti. Yang salah tak mungkin dibenarkan dan yang benar tidak
mungkin disalahkan," jelasnya.
Selain senjata M-16 yang dibungkus kain batik panjang dan dua magazine
serta 148 butir peluru yang ditaruh dalam tas pinggang, pada saat
penyergapan juga ditemukan selembar dokumen yang berisikan 21 nama dan
nomor plat mobil yang menjadi "target operasi" Sulaiman. Dokumen itu
didapat di dalam dompetnya. Kecuali itu, juga ditemukan beberapa benda
lain.
sumber : Dari berbagai media/mailing list dan Artikel yang di tulis oleh bro rudy79 (user kaskus)salah satu wartawan perang yang menjadi saksi hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar